Penjual tradisional banyak tersisih dari pasar-pasar modern...
Sebenarnya itu tidak harus terjadi karena masyarakat kita lebih dekat dan lebih familiar dengan para penjual tradisional, baik itu pedagang sayur di pasar, warung-warung di desa, ataupun penjual makanan di jalanan.
Namun ada satu yang kurang dari penjual tradisional, yaitu "pelayanan"....
Kenapa begitu...
Pernah ke warung tradisional? pernah juga ke indomaret atau sejenisnya?
Apa yang kita rasakan?
Ketika masuk ke toko atau warung tradisional,
kita kadang tidak di persilahkan, hanya ada pemilik warung yang tiba-tiba berdiri di depan kita menunggu kita memilih barang,
kadang kita bertemu muka masam karena kita tidak jadi membeli karena barang yang kita cari tidak ada,
atau kita di biarkan menunggu hingga 10 menit karena si pemilik toko sedang asik 'gosip' dengan tetangga....
Nyaman kah dengan kondisi seperti itu?... pasti tidak kan?....
Belum lagi kondisi barang yang kadang di biarkan berdebu...
Toko yang kotor dan berantakan...
Ayam yang tiba-tiba 'nangkring' di atas barang dagangan...
kue yang kemasanya 'klonyoh' akibat tanpa sengaja tersiram minyak goreng...
Bahkan mie yang sudah kadaluarsa tanpa di ketahui pemilik toko...
Masih nyaman kah?....
Sekarang ayo kita bandingkan dengan indomaret dan sejenisnya....
Begitu masuk kita akan di sapa dengan senyum ramah dan sapaan "selamat datang dan selamat berbelanja"
Barang yang bersih, tempat yang bersih, dan pelayanan yang ramah intinya,,,,
Nyaman kah? pasti ya...
Bukannya bertujuan memojokan para pedagang tradisional ya...
Tapi ingin menunjukan...sebenarnya...kalau kita para pedagang tradisional mau...
Kita bisa kok memangkan persaingan dengan pasar-pasar modern...
Karena bagaimanapun kita lebih dekat dengan masyarakat...
Lebih murah secara harga pula, karena setelah saya bandingkan harga di pasar modern terkadang sesisih hingga 2.000 rupiah per item nya...
Tapi....
Maukah kita sedikit berbenah?...
Kita bersihkan toko atau warung kita...
Gak perlu bagus... berlantai tanahpun asal bersih....
Tata dagangan sebaik mungkin....
Cek tanggal kadaluarsa...
Jangan biarkan hewan peliharaan kita 'main' ke toko
dan yang paling penting adalah.... senyum,salam, sapa dan pelayanan semaksimal mungkin...
Siap bersaing dengan pasar modern?.....pasti...mari mulai berbenah
Tampilkan postingan dengan label Women Carier. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Women Carier. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Juli 2011
Rabu, 29 Juni 2011
Sukses dalam Karier ala Keraton
Keraton identik dengan nilai tradisi yang kerapkali dianggap ketinggalan zaman. Namun nyatanya, nilai luhur kepemimpinan yang diajarkan di dalam keraton masih relevan dilakukan di masa modern kini. Menurut Raja Keraton Surakarta Pakoe Boewono XIII Tedjowulan, filosofi kearifan Jawa yang dipahaminya bisa menjadi teladan bagi generasi muda, termasuk ketika menjalani kepemimpinan dalam karier.
“Kepemimpinan, harus berada di tangan orang yang utuh, yang memenuhi 'wewaler',” ujar Tedjowulan dalam sambutannya usai acara Wisudan Santana di Aula Sasono Wiwoho, Jalan Mangunsarkoro 69, Menteng, Jakarta, Minggu (26/6/2011) lalu.
Tiga prinsip "Wewaler"
"Wewaler" yang dimaksud Tedjowulan mengandung tiga makna. Pertama, pemimpin harus
mendalami makna hidupnya dan mengusahakan agar hidupnya seimbang dan selaras. Misalnya dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan, keduanya harus bisa diatur dengan seimbang sehingga tak ada yang merasa dipinggirkan. Para perempuan modern sudah mulai bisa melakukan ini, yakni tetap fokus pada keluarga meski menjalani karier yang sangat sibuk.
Kedua, pemimpin harus terlatih sehingga mampu menangkap isyarat perubahan zaman. “Ia hendaknya mencita-citakan kaprawiran, keluhuran budi, serta mengekang diri dan prihatin,” jelas Tedjowulan.
Menjaga nilai luhur namun berpikiran terbuka
Tetap mempertahankan tradisi yang baik dari leluhur adalah hal yang baik, namun pemimpin harus juga bisa terbuka terhadap hal-hal baru. Caranya, dengan menjadi perempuan yang open minded, namun bersikap dan bertingkah laku yang patuh tradisi. Dengan begitu, Anda menjadi teladan yang seimbang bagi sekitar, tambahnya.
Ketiga, pemimpin seyogyanya memahami Filsafat Kepemimpinan Jawa, Hasta Brata dan Tri Bata. Tedjowulan menjelaskan filosofi Tri Bata yang masih relevan diaplikasi di masa kekinian:
* Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki)
Dengan merasa ikut memiliki, seorang pemimpin akan bisa menyatu dengan yang dipimpinnya. Saling menjaga apa yang sedang diperjuangkan bersama, sehingga perintah yang keluar pun untuk kepentingan bersama, bukan karena ego pribadi.
* Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela dengan ikhlas)
Membela bawahan yang melakukan kesalahan mungkin bisa dilakukan selama Anda yakin bawahan bisa memperbaiki kesalahannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membela perusahaan dalam banyak hal bisa juga Anda lakukan, bukan hanya sebatas profesionalitas, namun karena Anda memang mencintai profesi dan tempat bekerja saat ini.
* Mulat sariro hangrasa wani (mawas diri dan memiliki sifat berani untuk kebenaran)
Mawas diri berarti berhati-hati. Dalam mengambil keputusan, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Melihat masalah dari berbagai sudut pandang akan membantu diri lebih bijak dalam menilai sesuatu kemudian memutuskan. Jika keputusan yang Anda ambil sudah melalui tahap pertimbangan yang matang, maka Anda akan berani mmebela keyakinan meski ditentang
orang lain.
sumber : kompas female
“Kepemimpinan, harus berada di tangan orang yang utuh, yang memenuhi 'wewaler',” ujar Tedjowulan dalam sambutannya usai acara Wisudan Santana di Aula Sasono Wiwoho, Jalan Mangunsarkoro 69, Menteng, Jakarta, Minggu (26/6/2011) lalu.
Tiga prinsip "Wewaler"
"Wewaler" yang dimaksud Tedjowulan mengandung tiga makna. Pertama, pemimpin harus
mendalami makna hidupnya dan mengusahakan agar hidupnya seimbang dan selaras. Misalnya dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan, keduanya harus bisa diatur dengan seimbang sehingga tak ada yang merasa dipinggirkan. Para perempuan modern sudah mulai bisa melakukan ini, yakni tetap fokus pada keluarga meski menjalani karier yang sangat sibuk.
Kedua, pemimpin harus terlatih sehingga mampu menangkap isyarat perubahan zaman. “Ia hendaknya mencita-citakan kaprawiran, keluhuran budi, serta mengekang diri dan prihatin,” jelas Tedjowulan.
Menjaga nilai luhur namun berpikiran terbuka
Tetap mempertahankan tradisi yang baik dari leluhur adalah hal yang baik, namun pemimpin harus juga bisa terbuka terhadap hal-hal baru. Caranya, dengan menjadi perempuan yang open minded, namun bersikap dan bertingkah laku yang patuh tradisi. Dengan begitu, Anda menjadi teladan yang seimbang bagi sekitar, tambahnya.
Ketiga, pemimpin seyogyanya memahami Filsafat Kepemimpinan Jawa, Hasta Brata dan Tri Bata. Tedjowulan menjelaskan filosofi Tri Bata yang masih relevan diaplikasi di masa kekinian:
* Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki)
Dengan merasa ikut memiliki, seorang pemimpin akan bisa menyatu dengan yang dipimpinnya. Saling menjaga apa yang sedang diperjuangkan bersama, sehingga perintah yang keluar pun untuk kepentingan bersama, bukan karena ego pribadi.
* Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela dengan ikhlas)
Membela bawahan yang melakukan kesalahan mungkin bisa dilakukan selama Anda yakin bawahan bisa memperbaiki kesalahannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membela perusahaan dalam banyak hal bisa juga Anda lakukan, bukan hanya sebatas profesionalitas, namun karena Anda memang mencintai profesi dan tempat bekerja saat ini.
* Mulat sariro hangrasa wani (mawas diri dan memiliki sifat berani untuk kebenaran)
Mawas diri berarti berhati-hati. Dalam mengambil keputusan, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Melihat masalah dari berbagai sudut pandang akan membantu diri lebih bijak dalam menilai sesuatu kemudian memutuskan. Jika keputusan yang Anda ambil sudah melalui tahap pertimbangan yang matang, maka Anda akan berani mmebela keyakinan meski ditentang
orang lain.
sumber : kompas female
Rabu, 15 Juni 2011
5 Tanda Keuangan Anda Bermasalah
Bila untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari saja Anda menggunakan kartu kredit, ini merupakan pertanda keuangan Anda bermasalah.
Ketika masih lajang, Anda mungkin tak punya beban. Anda menghabiskan semua uang gaji untuk kesenangan Anda sendiri. Artinya, Anda tidak memikirkan bagaimana kondisi keuangan Anda di masa depan. Padahal, siapa yang bisa memprediksi bagaimana hidup Anda nanti, berkaitan dengan inflasi, kesehatan, pendidikan anak, dan lain sebagainya?
Untuk menghindari masalah keuangan, bahkan kebangkrutan, biasakan untuk mengelola keuangan dengan rapi sejak pertama Anda memiliki penghasilan sendiri. Butuh disiplin dan kesediaan untuk memiliki tanggung jawab finansial seperti ini. Anda tak bisa menunggu sampai tanda-tanda kesulitan keuangan itu muncul. Bila beberapa masalah di bawah ini terjadi, bisa jadi sudah terlambat untuk memperbaikinya:
Belanja bahan makanan dengan kartu kredit
Bahan makanan termasuk kebutuhan sehari-hari. Paling-paling, Anda menyediakan stok bahan makanan untuk seminggu saja. Jadi, bila untuk kebutuhan sehari-hari saja Anda menggunakan kartu kredit, sudah pasti keuangan Anda bermasalah. Kecuali, Anda menggunakan kartu kredit tersebut hanya karena merasa lebih nyaman atau lebih praktis. Membayar bensin atau ongkos jajan di restoran dengan kartu kredit (kecuali saat Anda mentraktir teman sekantor) juga perlu diwaspadai.
Untuk menghindari utang, biasakan untuk berbelanja secara tunai. Kalau memang tidak ada uang tunai, artinya memang belum waktunya berbelanja. Anda juga bisa membuat manajemen amplop yang salah satunya diisi dengan biaya untuk hiburan, seperti jajan atau liburan.
Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan
Banyak orang yang keuangannya pas-pasan, tetapi menginginkan gaya hidup yang lebih tinggi. Misalnya, dengan mengontrak rumah di kawasan yang mahal, mencicil mobil, dan membeli gadget-gadget terkini. Bila pada akhir bulan Anda tidak mampu menyisihkan uang untuk ditabung, dan malah harus membayar utang, maka Anda bisa terjebak dalam kebiasaan seperti ini dan sulit berhenti. Cobalah menyewa rumah yang lebih murah, membeli mobil yang lebih sesuai kemampuan, atau berbelanja untuk memenuhi kebutuhan (bukan keinginan) saja. Bila Anda berkeras mendapatkan gaya hidup tersebut, maka sebaiknya Anda mencari penghasilan tambahan.
Gaji Anda besar, tetapi tak punya tabungan
Pernah dengar kan, semakin tinggi gaji seseorang, semakin tinggi pula kebutuhannya. Alhasil karena mengejar kebutuhan untuk gaya hidup yang tinggi itu, kita melupakan kebutuhan yang lain. Tiba-tiba, ketika pasangan atau orangtua harus menjalani perawatan di rumah sakit, Anda tidak mempunyai dana cadangan.
Maka dari itu, memiliki gaji tinggi tak ada artinya bila langsung Anda habiskan setiap bulan. Lebih baik gaji pas-pasan, tetapi masih mampu menabung, daripada tak mampu menabung sama sekali. Kalau Anda tidak pintar mencari penghasilan yang tinggi, setidaknya Anda pintar menabung.
Tidak mampu membayar "minimum payment" untuk kartu kredit
Melunasi utang secara minimum payment saja tidak disarankan, apalagi bila Anda tak mampu membayar minimum payment tersebut. Jangan lupa, ketika Anda membeli barang atau tiket untuk liburan secara mencicil, setiap tunggakan utang tersebut akan dikenakan bunga. Semakin lama Anda melunasinya, semakin banyak akumulasi utang Anda. Untuk menyelesaikan utang, Anda bisa menghubungi bank penerbit kartu kredit untuk mengupayakan proses pembayaran yang lebih meringankan. Jadilah nasabah yang bertanggung jawab dengan selalu membayar lunas utang-utang Anda.
Slogan "kalau rezeki tak akan ke mana-mana" tak berlaku lagi
Anda tidak pernah mengecek berapa pengeluaran Anda dalam sebulan, dan berapa sisa saldo rekening Anda. Ketika ingin mengambil uang di ATM, Anda terkejut karena saldonya tinggal Rp 10.000. Lalu, Anda berkeyakinan bahwa kalau memang sudah rezeki pasti Anda akan mendapatkan pekerjaan sampingan pada sore hari, atau Anda memenangkan undian berhadiah. Namun, rezeki yang Anda tunggu-tunggu ini tidak datang juga!
Jika Anda memiliki beberapa rekening di bank, dan hanya menyisakan beberapa receh saja, maka tentu itu bukan pertanda baik. Maka dari itu, segera bangun dari tidur Anda, dan ubah cara Anda dalam mengelola keuangan!
Sumber : kompas female
Untuk menghindari masalah keuangan, bahkan kebangkrutan, biasakan untuk mengelola keuangan dengan rapi sejak pertama Anda memiliki penghasilan sendiri. Butuh disiplin dan kesediaan untuk memiliki tanggung jawab finansial seperti ini. Anda tak bisa menunggu sampai tanda-tanda kesulitan keuangan itu muncul. Bila beberapa masalah di bawah ini terjadi, bisa jadi sudah terlambat untuk memperbaikinya:
Belanja bahan makanan dengan kartu kredit
Bahan makanan termasuk kebutuhan sehari-hari. Paling-paling, Anda menyediakan stok bahan makanan untuk seminggu saja. Jadi, bila untuk kebutuhan sehari-hari saja Anda menggunakan kartu kredit, sudah pasti keuangan Anda bermasalah. Kecuali, Anda menggunakan kartu kredit tersebut hanya karena merasa lebih nyaman atau lebih praktis. Membayar bensin atau ongkos jajan di restoran dengan kartu kredit (kecuali saat Anda mentraktir teman sekantor) juga perlu diwaspadai.
Untuk menghindari utang, biasakan untuk berbelanja secara tunai. Kalau memang tidak ada uang tunai, artinya memang belum waktunya berbelanja. Anda juga bisa membuat manajemen amplop yang salah satunya diisi dengan biaya untuk hiburan, seperti jajan atau liburan.
Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan
Banyak orang yang keuangannya pas-pasan, tetapi menginginkan gaya hidup yang lebih tinggi. Misalnya, dengan mengontrak rumah di kawasan yang mahal, mencicil mobil, dan membeli gadget-gadget terkini. Bila pada akhir bulan Anda tidak mampu menyisihkan uang untuk ditabung, dan malah harus membayar utang, maka Anda bisa terjebak dalam kebiasaan seperti ini dan sulit berhenti. Cobalah menyewa rumah yang lebih murah, membeli mobil yang lebih sesuai kemampuan, atau berbelanja untuk memenuhi kebutuhan (bukan keinginan) saja. Bila Anda berkeras mendapatkan gaya hidup tersebut, maka sebaiknya Anda mencari penghasilan tambahan.
Gaji Anda besar, tetapi tak punya tabungan
Pernah dengar kan, semakin tinggi gaji seseorang, semakin tinggi pula kebutuhannya. Alhasil karena mengejar kebutuhan untuk gaya hidup yang tinggi itu, kita melupakan kebutuhan yang lain. Tiba-tiba, ketika pasangan atau orangtua harus menjalani perawatan di rumah sakit, Anda tidak mempunyai dana cadangan.
Maka dari itu, memiliki gaji tinggi tak ada artinya bila langsung Anda habiskan setiap bulan. Lebih baik gaji pas-pasan, tetapi masih mampu menabung, daripada tak mampu menabung sama sekali. Kalau Anda tidak pintar mencari penghasilan yang tinggi, setidaknya Anda pintar menabung.
Tidak mampu membayar "minimum payment" untuk kartu kredit
Melunasi utang secara minimum payment saja tidak disarankan, apalagi bila Anda tak mampu membayar minimum payment tersebut. Jangan lupa, ketika Anda membeli barang atau tiket untuk liburan secara mencicil, setiap tunggakan utang tersebut akan dikenakan bunga. Semakin lama Anda melunasinya, semakin banyak akumulasi utang Anda. Untuk menyelesaikan utang, Anda bisa menghubungi bank penerbit kartu kredit untuk mengupayakan proses pembayaran yang lebih meringankan. Jadilah nasabah yang bertanggung jawab dengan selalu membayar lunas utang-utang Anda.
Slogan "kalau rezeki tak akan ke mana-mana" tak berlaku lagi
Anda tidak pernah mengecek berapa pengeluaran Anda dalam sebulan, dan berapa sisa saldo rekening Anda. Ketika ingin mengambil uang di ATM, Anda terkejut karena saldonya tinggal Rp 10.000. Lalu, Anda berkeyakinan bahwa kalau memang sudah rezeki pasti Anda akan mendapatkan pekerjaan sampingan pada sore hari, atau Anda memenangkan undian berhadiah. Namun, rezeki yang Anda tunggu-tunggu ini tidak datang juga!
Jika Anda memiliki beberapa rekening di bank, dan hanya menyisakan beberapa receh saja, maka tentu itu bukan pertanda baik. Maka dari itu, segera bangun dari tidur Anda, dan ubah cara Anda dalam mengelola keuangan!
Sumber : kompas female
Senin, 13 Juni 2011
Trik Lolos Interview buat Si Kutu Loncat

Bagi para kutu loncat, pertanyaan seputar riwayat kerja yang banyak berpindah-pindah ini akan dilontarkan pada saat interview. Jawaban yang tepat akan membuat calon perusahaan jatuh cinta dan mau "meminang" Anda. Sementara, jika jawaban yang diberikan kurang kuat, mereka akan merasa tidak nyaman dan memutuskan menerima kandidat lainnya. Nah, apa saja jawaban terbaik yang dapat Anda berikan pada pewawancara? Kuasai trik berikut ini:
1. Awali dengan alasan yang meyakinkan
Beberapa alasan berikut ini akan diterima dengan baik oleh pewawancara, dan membuat mereka merasa bahwa Anda memang tidak punya pilihan lain, selain berpindah kerja dalam waktu singkat.
* Mengurus anak atau anggota keluarga yang sedang sakit
* Mengikuti pasangan yang ditugaskan keluar negeri
* Pekerjaan yang ditawarkan bukanlah pekerjaan tetap
* Ingin mencoba beberapa bidang hingga mengetahui bidang mana yang cocok
* Ingin mendapatkan tingkat kepuasan yang lebih
* Ingin mendapatkan tanggung-jawab yang lebih
2. Hindari menjadikan uang sebagai alasan
Jika Anda menyiratkan bahwa uang adalah hal yang memicu pindah-pindah kerja, ini akan mendatangkan tanda tanya dari pewawancara. Mereka akan berpikir, Anda akan segera pindah ke tempat lain apabila ada tawaran gaji yang lebih tinggi sedikit. Asumsi lainnya, Anda juga bukan tipe orang yang loyal terhadap perusahaan.
3. Hubungkan keputusan berpindah kerja dengan target karier
Jelaskan bahwa Anda memilih untuk pindah kerja demi mendapatkan posisi yang lebih tinggi, dengan tanggung jawab yang lebih besar. Tambahkan juga bahwa dengan keputusan ini, Anda telah berhasil mendapatkan pengalaman lebih banyak dan juga kemampuan yang lebih baik. Dengan begitu, pewawancara akan menyimpulkan bahwa berpindah-pindah kerja adalah cara Anda mendapat kemajuan dalam berkarier, bukan karena bosan atau tidak mampu berkomitmen.
4. Jelaskan visi Anda di perusahaan
Setelah memaparkan alasan Anda sering pindah kerja, tambahkan juga dengan menjelaskan apa yang Anda ingin lakukan di perusahaan itu. Kemukakan dengan logis mengapa kali ini Anda akan menetap lebih lama di perusahaan. Misalnya, karena pasangan sudah kembali ditugaskan di tanah air, sehingga Anda bisa kembali bekerja. Atau, karena Anda melihat adanya potensi berkembang yang sangat besar dan dalam jangka panjang di perusahaan tersebut.
Sumber : kompas female
1. Awali dengan alasan yang meyakinkan
Beberapa alasan berikut ini akan diterima dengan baik oleh pewawancara, dan membuat mereka merasa bahwa Anda memang tidak punya pilihan lain, selain berpindah kerja dalam waktu singkat.
* Mengurus anak atau anggota keluarga yang sedang sakit
* Mengikuti pasangan yang ditugaskan keluar negeri
* Pekerjaan yang ditawarkan bukanlah pekerjaan tetap
* Ingin mencoba beberapa bidang hingga mengetahui bidang mana yang cocok
* Ingin mendapatkan tingkat kepuasan yang lebih
* Ingin mendapatkan tanggung-jawab yang lebih
2. Hindari menjadikan uang sebagai alasan
Jika Anda menyiratkan bahwa uang adalah hal yang memicu pindah-pindah kerja, ini akan mendatangkan tanda tanya dari pewawancara. Mereka akan berpikir, Anda akan segera pindah ke tempat lain apabila ada tawaran gaji yang lebih tinggi sedikit. Asumsi lainnya, Anda juga bukan tipe orang yang loyal terhadap perusahaan.
3. Hubungkan keputusan berpindah kerja dengan target karier
Jelaskan bahwa Anda memilih untuk pindah kerja demi mendapatkan posisi yang lebih tinggi, dengan tanggung jawab yang lebih besar. Tambahkan juga bahwa dengan keputusan ini, Anda telah berhasil mendapatkan pengalaman lebih banyak dan juga kemampuan yang lebih baik. Dengan begitu, pewawancara akan menyimpulkan bahwa berpindah-pindah kerja adalah cara Anda mendapat kemajuan dalam berkarier, bukan karena bosan atau tidak mampu berkomitmen.
4. Jelaskan visi Anda di perusahaan
Setelah memaparkan alasan Anda sering pindah kerja, tambahkan juga dengan menjelaskan apa yang Anda ingin lakukan di perusahaan itu. Kemukakan dengan logis mengapa kali ini Anda akan menetap lebih lama di perusahaan. Misalnya, karena pasangan sudah kembali ditugaskan di tanah air, sehingga Anda bisa kembali bekerja. Atau, karena Anda melihat adanya potensi berkembang yang sangat besar dan dalam jangka panjang di perusahaan tersebut.
Sumber : kompas female
Langganan:
Postingan (Atom)